Posted by : Fajar Sardi Jul 15, 2017

Sebelum gue mulai menuliskan pengalaman backpacker ke brunei pada penghujung Ramadhan 1438 H sampai Lebaran tahun ini ada baiknya gue mulai Intermezzo tentang Brunei Darussalam ini dulu ya :D.
Nah, siapa yang gak tau dengan Brunei Darussalam, negara kaya penghasil minyak bumi dan gas alam ini merupakan salah satu negara tetangga kita, Indonesia. Meskipun tetanggaan, Brunei Darussalam agak susah dijangkau karena letaknya di ujung Pulau Kalimantan dan harus melewati negara bagian Serawak, Malaysia untuk mencapai kesana. Akses ke Brunei juga terbilang agak relative mahal dibandingkan dengan akses menuju negara tetangga lainnya seperti Malaysia. Untuk menuju Brunei Darussalam, terdapat dua direct flight dari Indonesia. Pertama, dari Jakarta dan yang kedua dari Surabaya menggunakan Royal Brunei maskapai kebanggaan Negara Brunei Darussalam. Untuk harga, hmmm jangan ditanya. Selevel backpacker gembel kaya gue harga yang ditawarkan relatif mahal hehe. Nah, untuk yang tinggal di Kalimantan mungkin bias ambil opsi naik Damri dari Pontianak yang ongkosnya sekitar Rp700rb. Kalau kaya gue yang berada di Padang, opsi paling murah adalah terbang dulu ke Kuala Lumpur kemudian lanjut cari penerbangan ke Brunei seperti yang gue lakukan kemarin. Perjalanan gue ke Brunei terbilang dadakan dan memang direncanakan diakhir penghujung Ramadhan agar bisa merasakan berlebaran di Negara tersebut. Yah sekali sekali gak apalah mencoba merasakan lebaran di negeri orang lain :D.

Sabtu, 24 Juni
Karena penerbangan langsung ke Brunei gak ada dari Padang, maka Keberangkatan gue dari Padang menggunakan airasia ke KL terlebih dahulu dan menginap semalam dikuala lumpur kemudian melanjutkan flight ke Bandar Seri Begawan (BSB) keesokan paginya. Penerbangan pagi ke Brunei dari KLIA2 by airasia adalah pukul 6.30 pagi dan sampai di BSB pukul 9.00. penerbangan KL – Bandar Seri Begawan (BSB) memakan waktu 2,5 Jam dan cuaca juga cerah.
Pukul 9.30 gue udah mendarat di BSB dengan selamat. Brunei International Airport (IATA: BWN) merupakan bandara utama dan satu satunya di Brunei, bahkan warga Malaysia yang kebetulan sebangku dipesawat juga menggunakan bandara ini untuk transit dan ke daerah Limbang di perbatasan Malaysia – Brunei karena jarak Brunei – Limbang menggunakan mobil hanya ditempuh dalam waktu 30 menit.
Setelah mendarat, gue langsung bergegas ke Imigrasi karena saat yang bersamaan pesawat Royal Brunei juga mendarat. Daripada kelamaan di imigrasi mending gue agak cepetan dan kebetulan juga gue selalu dapet hotseat walaupun gak pernah beli hehe, ntar gue kasih tau tipsnya di tulisan yang lain :D. Untuk imigrasi juga gak ada masalah, ya standar petugas imigrasi disetiap negara dengan wajah super juteknya nanya mau ngapain ke brunei, berapa lama, nginap dimana dan nanyain tiket pulang. Udah. Stempel free visa 14 hari udah di paspor.
imigrasi masih sepi
Brunei airport with RB background
Brunei airport terbilang cukup kecil untuk bandara utama negara. ada dua lantai, lantai pertama arrival hall dan lantai 2 departure hall. Tetapi karena penerbangan ke brunei juga sedikit, gue kira wajar juga sih. Sebagai pertimbangan Brunei airport ini setengah dari ukuran bandara kualanamu di Medan, namun lebih bersih dan bagus dan tertata rapi. Untuk maskapai yang terlihat juga sedikit. Maskapai Royal Brunei dengan armada B787 Dreamliner teranyar nya masih mendominasi bandara ini. Ya intinya walaupun kecil, bandara ini sangat bersih dan modern.
Alhamdulillah, offically gue udah masuk Negara Brunei Darussalam. oh iya, kali ini gue jalan solo. Tapi, gak sepenuhnya solo sih karena bareng teman dari grup BD juga dan ada temen dari grup BD satu lagi yang super baik banget sampe gue dijemput dan ditemani kebeberapa objek wisata di brunei disela2 waktu kerjanya. kebetulan beliau WN Brunei dan tinggal disana. Tulisan ini juga gue dedikasi buat bang Ibrahim. hehe, thanks a lot bang :D

Welcome Board 
2nd Floor BWN, departure hall


Checkin area, 2nd floor

departure hall, 2nd floor

airasia chekin area, 2nd floor paling ujung

foto diambil dari lantai 2
sambil menunggu kedatangan Bng Ibrahim, gue keliling2 dibandara yang super mungil ini. oh iya, untuk internetan di brunei gue beli sim card di bandara. provider yang paling murah untuk paket internetan selama kurang lebih seminggu di brunei adalah progresif seharga $10. provider satu lagi adalah DST tapi lebih mahal. sepanjang gue pakai progresif sih oke2 aja selama di bandar seri begawan, tapi untuk sinyal masih 3G dan saat gue masuk kedalam istana nurul iman, sinyal internet provider ini hilang hahaha.
untuk mata uang, gue bawa SGD karena mata uang SGD berlaku di brunei begitu pula sebaliknya. karena rate kedua negara sama maka mata uangnya berlaku di kedua negara. tetapi untuk banknotes aja ya... dan untuk banknote diatas $50 harus gak ada cacat.
Progresif, only $10
kurang lebih 15 menit menunggu, temen gue akhirnya datang. gue langsung dianter ke hotel karena beliau juga masih ada agenda kerja dan janji akan buka puasa bersama nanti sore.
sepanjang perjalanan, seperti yang telah gue browsing sebelumnya. jalanan brunei ini memang sepi banget, gak kelihatan bus atau angkutan umum. yang ada hanya mobil pribadi dan pastinya gak macet. Jalan di brunei sekilas gue liat seperti jalanan di singapura, jalan gede, trotoar gede tapi panas hehe.

kondisi jalanan Brunei

disini payung buat panas, bukan buat hujan


jalanan brunei, masjid jame

prime minister office
sakin lengangnya lalu lintas di BSB ini, hanya butuh 15 menit saja perjalanan dari Bandara ke Kota.
selama di Bandar Seri Begawan, gue nginap di Brunei Hotel. untuk budget hostel ada beberapa sih disekitaran bandar, ntar gue ulas dilain artikel :D.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © fajarsardi's blog - Designed by Fajar Sardi.