Posted by : Fajar Sardi Apr 4, 2017

4 Maret 2017


Perjalanan menuju MBC (Machapuchere Base Camp) dari Hotel Himalaya merupakan perjalanan yang paling berkesan selama trekking ini. .
Pagi ini suhu mencapai -2ºC. Sisa hujan kemarin malam sudah berubah menjadi es menyelimuti pekarangan hotel. Susah menggambarkan bagaimana dinginnya pagi ini. Jangankan mandi, untuk cuci muka saja gue gak tahan. Masih beruntung gue bisa tahan dingginya air buat cebok haha (untuk bo*er harus disini, setelah keatas air beku semua) wkwkwk. Pagi ini gue pesan hot chocolate (minuman kesukaan selama trekking) dan mie ramen. Pukul 9 kami mulai bergerak menuju deurali. Normalnya perjalanan dari Hotel Himalaya ke MBC adalah 4 jam. Hotel Himalaya - Deurali 2 jam , kemudian Deurali MBC 2 jam
“this is the real trek” mungkin kalimat itu bisa menggambarkan bagaimana jalur pendakian setelah hotel himalaya. Sisa es tadi malam masih menutupi sebagian jalan. Sebenarnya jalur menuju deurali masih wajar, namun karena jalan ditutup es dan salju, tingkat kesulitan semakin tinggi. Ditambah lagi sepatu kami gak ada yang dilengkapi oleh crampon. Nah untuk teman – teman yang berencana pergi trekking ABC sewaktu winter dan awal musim semi (Des – Maret) sebaiknya mempersiapkan sepasang crampons sebagai antisipasi. Selain itu sunglasses juga sangat diperlukan pada saat musim salju. Hal tersebut karena pantulan sinar matahari sangat membuat silau mata.
Perjalanan ke deurali kurang lebih 2 jam. Sampai di Deurali kami berhenti untuk mencari apakah ada penyewaan crampon. Ternyata ada, dengan harga yang sangat fantastis. Saya menyewa crampon seharga NPR500 untuk sepasang selama sehari. Dan menyewa kacamata seharga NPR500 untuk 2 hari. Karena crampon hanya ada sepasang, maka gue hanya memakai sebelah dan satunya buat temen gue. Plus kacamata hitam. Total yang kami keluarkan adalah NPR2000 atau sekitar Rp250rb T_T. seharusnya kami juga meninggalkan deposit, namun karena kami bersama dengan teman Nepali akhirnya mereka nego agar harga lebih murah dan tanpa deposit. Sial emang, karena ketidaktahuan kami. Sebenarnya kami masing2  memiliki kacamata hitam, namun kami tinggal di chomrong karena berfikir bahwa salju gak terlalu banyak dan kacamata gak diperlukan. Apa mau dikata, penyesalan emang datang terlambat. Mau gak mau, suka gak suka ya harus disewa.
Setelah melewati deurali, trek sudah semakin sulit karena hampir keseluruhan jalan ditutupi oleh salju dan es. Diperjalanan menuju MBC, kami bertemu trekker asal Indonesia, namanya Mas Widi dan mba Fania yang nantinya akan menjadi travelmates di Pokhara dan Kathmandu hehe. Kami bertemu dengan mereka saat mereka mau turun dan kami akan naik ke MBC. Namun, sebenarnya mereka mengurungkan niat untuk lanjut ke ABC karena kondisi jalan yang sangat sulit. Menurutnya, longsoran salju menutupi jalan dan jalurnya juga sudah tertutup sehingga jarak jalur dan jurang sudah sangat dekat.
Mendengar penjelasan tersebut, kami hampir mengurungkan niat untuk menuju ABC, ditambah lagi cuaca juga mulai buruk karena badai sudah mulai datang. Namun, saya pribadi masih mau melanjutkan perjalanan. Akhirnya setelah kompromi dengan teman kami melanjutkan perjalanan dengan catatan jika kondisi trek atau cuaca semakin buruk, makan kami akan memutuskan untuk kembali ke deurali.

es menutupi sebagian jalur

view diperjlanan
Benar saja, 1 jam mendekati MBC, jalur ditutupi oleh salju tebal dan hampir longsor selain itu, awan badai juga semakin dekat sehingga kami mempercepat langkah agar sampai ke ABC. Dilema saat itu sudah ada dipikiran kami, kalau saja badai salju... dimana kami mau berteduh sedangkan disekitar sini tidak ada tempat untuk berteduh. Mau kembali ke deurali jelas sekali kami pasti terkena badai salju karena awan gelap berasal dari arah deurali. Lagipula kami sudah setengah jalan bahkan lebih untuk mencapai MBC. Kami memutuskan untuk tetap berjalan dan berharap kami sampai terlebih dahulu. Mendekati MBC, seluruh jalan telah ditutupi oleh es dan  salju, sehingga kami harus bener – benar ekstra hati – hati melewatinya. Disinilah peran utama crampons dan juga trekking pole.

 
lepas hotel himalaya

masih bisa foto2

Frozen river 
seluruhnya tertutup es



”Saya yakin, tanpa bantuan crampons dan trekking pole kemungkinan besar kami sudah kembali. karena grip sepatu saja tidak akan sanggup menahan licin nya jalur es ini.”
Begitulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan susahnya menapakkan kaki di jalur es. Menggunakan crampon saja kami masih terjatuh karena licin, bagaimana kalau gak pake -___-. Namun, secara kontradiktif kami melihat para guide dan porter melewati jalur es tanpa pertolongan crampons maupun trekking pole dan berlari meluncur tanpa takut terjatuh. Wow emezing! Kalau gue mah, mungkin badan dan tulang2 sudah patah dan ditemukan didasar jurang.

jalur menuju MBC

eksis dulu,that was a breathtaking view!

menuju MBC

kondisi saat badai mulai datang

Karena cuaca kurang baik, kami tidak terlalu berfikir untuk melakukan banyak sesi fotografi. Malah kalau bisa, kami ingin berlari secepat mungkin agar sampai ke MBC secepatnya. Yang kami khawatirkan tentu saja diterpa badai salju. Jantung udah deg2an membayangkan gimana kalau kami mati kedinginan diterpa badai salju. Saat itu pula terbayang dibenak kami film everest, yang kebetulan ditonton dipesawat menuju kathmandu -_-
Semakin keatas badan semakin terasa lelah, mungkin karena udara terlalu dingin atau karena oksigen sudah mulai menipis. Tapi secercah harapan sudah didepan mata wkwkwk, puitis bgt. Dari kejauhan sudah terlihat atap biru yang berarti kami sudah dekat. Benar saja, ternyata kami sudah sampai di Machapuchere Base Camp atau MBC. Satu langkah lagi menuju Annapurna Base Camp.finallly
Ketika kami sampai di MBC, cuaca langsung berubah gelap. terbenam oleh awan badai. Alhamdulillah kami sampai disini dengan selamat. Kami sampai pukul 2 siang. Seharusnya kami akan langsung menuju ABC. Namun cuaca tidak bersahabat sehingga kami memutuskan untuk bermalam di MBC. Keputusan ini sangat tepat mengingat badai salju yang datang tidak berhenti hingga malam hari.

kondisi MBC

kondisi MBC saat badai salju
Setelah sampai di MBC, kami meminta diantar ke kamar untuk berbenah. Sungguh luar biasa dinginnya suhu udara disini. Berdasarkan termometer suhu udara -10ºC lapisan baju yang kami pakai bener benar tidak bisa menahan udara yang menusuk. Bayangkan saja, saya sudah memakai outer + down inner tnf + iner polar + baju dan long john + sleeping bag, udara dingin masih saja menusuk. Kamar kami berada di bagian bawah guest house. Masih beruntung karena tidak diterpa langsung oleh angin. Setelah berberes dan menambah lapisan pakaian, kami langsung menuju dining hall. Disini biasanya disediakan penghangat, namun kami harus membayar sebesar NPR200/ orang. It’s ok lah daripada harus mati kedinginan.
Oh iya, satu hal lagi yang membuat kami tidak banyak foto. Apa ituu?? Ternyata HP (Iphone atau samsung atau yang lainnya) ternyata tidak kuat menahan suhu extreme. Iya! Ternyata Handphone akan mati dibawah suhu minus. WTF wkwkwk. Ternyata baterai li-ion akan mati dan tidak akan bisa bertahan. Bukan berarti baterai langsung kosong ya. Biarpun baterai penuh, maka jika handphone dihidupkan dan kemudian beberapa saat akan langsung mati. Dan itu berlaku hampir disemua handphone.





setelah makan siang pukul 3, gue menuju ke kamar memandang dari jendela derasnya hujan salju hari ini. Sekali lagi kami bersyukur bisa sampai di MBC tepat waktu. Sambil menunggu makan malam, dan kebetulan kita bertemu 3 orang indonesia yang juga akan bermalam di MBC. Versi mereka lebih seru, ternyata mereka baru sampai pukul 5 sore dan menghadapi badai salju ditengah perjalanan menuju MBC. Frustasi banget bahkan mereka kehilangan jalur karena tertutup salju. Beruntung mereka menggunakan guide dan telah beberapa kali melakukan trekking ke ABC. Kebetulan mereka merupakan WNI yang telah lama tinggal di Nepal dan kembali ke Indonesia kemudian memperkenalkan Nepal dengan mendirikan perusahaan perjalanan, serta mengakomodasi beberapa travel agent di Indonesia untuk melakukan kegiatan atau berwisata di Nepal. Kami banyak bercerita tentang bagaimana Nepal dimata Indonesia dan bagaimana mereka berniat untuk saling memperkenalkan negara, iya... menurut cerita banyak sekali warna negara nepal yang tidak pernah tau dimana Indonesia dan tidak pernah keluar dari Nepal. Seru deh ceritanya hehe...
habis makan malam, waktu kami habiskan dikamar untuk istirahat karena travelmate saya mengalami sakit kepala, kemungkinan AMS (Acute Mountain Sickness)... oleh karena itu, jangan lupa untuk membawa obat2an ya gaiss.. perlengkapan medis dasar dan common medicine wajib hukumnya untuk dibawa.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan. Jangan lupa untuk membeli asuransi perjalanan apalagi dalam jangka waktu yang cukup lama. Cari informasi mengenai asuransi yang mengcover evakuasi medis darurat dengan helicopter. Karena gak ada cara lain untuk membawa orang sakit dari sini kecuali dengan helicopter.

Resume Day 5 Trekking: Hotel Himalaya to MBC ± 5 Hours Walking
Hotel Himalaya (2900m) – Deurali (3200m) ±2 Hours
Deurali (3200m) – MBC (3700m)  ±3 Hours

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © fajarsardi's blog - Designed by Fajar Sardi.